MENGASUH ANAK DENGAN SAYAP PATAH

Posted: 24 Mei 2010 in Sahabat AYAH

AYAH KEMANA ?

Kantukku telah tiba
AYAH dan Bunda ada dimana
Aku ingin kita bertatap muka
Kenapa setiap hari begini saja
Kantukku telah tiba
Aku kembali bertanya
Kenapa aku dibiarkan tidur sendiri saja
Padahal aku ingin berbagi cerita
Kantukku telah tiba
Tempat tidur yang sepi tanpa cinta
Selimut yang dingin tanpa kata-kata
Bantal dan guling tak bisa bicara
AYAH dan Bunda entah kemana
( puisi ini ditulis S, kelas 3 SD. Sudah lebih setahun hidup hanya dengan AYAHnya saja. Bundanya meninggal karena sakit )

TETAP SENDIRI

Aku lihat bulan di sela jendela
Aku lihat bulan begitu indahnya
Aku bayangkan andai bulan adalah AYAHku
Aku khayalkan andai bulan adalah bundaku
Pastilah aku tidak sendiri jelang tidur ini
Pastilah kami terus berbagi
Pastilah kami saling memeluk mesra
Pastilah kami saling mencium penuh cinta
Tapi aku tetap sendiri saja
Tak bisa bicara tak dapat bercerita
Tak bisa mengungkapkan suka
Tak bisa juga menangis karena duka
( puisi ini ditulis oleh G, kelas 4 SD. Lima tahun hidup dengan AYAH tunggal karena perceraian )
Inspirasi Ayah
“Anak yang tidak berada dalam asuhan KELUARGA akan tumbuh tidak normal dan MENYIMPANG pada banyak kehidupannya” (Sayyid Quthb)

AYAH yang luar biasa, kali ini diskusi kita adalah soal AYAH yang sendirian mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sejujurnya, kalau boleh memilih janganlah takdir itu jatuh kepada kita. Janganlah hendaknya Allah pilih kita sebagai AYAH tunggal. Sendirian menemani anak tumbuh kembang sepanjang hari. Sendirian menjalani dua peran sekaligus. Seperti seekor burung terbang kesana kemari dengan satu sayapnya patah terkulai.

AYAH tunggal, ditengarai semakin banyak jumlahnya akhir-akhir ini. Penyebabnya banyak. Ada yang disebabkan oleh meninggalnya pasangan. Tapi yang terbanyak adalah kasus perceraian. Dari semua akibat yang disebabkan oleh kejadian ini, tentulah selalu yang menjadi korban terberatnya tidak lain tidak bukan adalah sang anak. Anaklah yang merasakan derita fisik maupun psikologis hidup tanpa ibu.

Tapi malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Takdir Allah telah mendatangi AYAH. Belum ada pilihan selain membesarkan anak-anak dengan tangan sendiri tanpa pasangan lagi. AYAH harus lakukan pengasuhan dan pendidikan anak sampai datang ketentuan Allah yang lain dan terbaik. Berikut ini ada beberapa mitos yang harus AYAH tunggal baung jauh-jauh.

Mitos 1 : AYAH Tunggal Tidak Tahu Cara Merawat Anak
Allah Maha Adil, Secara fitrah, Allah memberikan rasa kasih sayang yang sama kepada anak antara ibu dan AYAH. AYAH punya potensi yang sama dalam merawat anak-anak bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Hanya saja tentulah AYAH membutuhkan waktu dan kesempatan untuk belajar dalam merawat anak.
Mitos 2 : AYAH Tunggal Tak Mau Mengorbankan Waktunya Demi Anak-anak
Dulu, banyak orang berprinsip para AYAH tak boleh keluar dari pekerjaanya. Kini, ketika ketentuan Allah membuat AYAH tunggal harus realistis maka mengurus anak-anak sambil bekerja bukanlah pilihan dan buruk. Banyak AYAH tunggal yang memutuskan bekerja di rumah saja. Mereka berkreasi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikendalikan dari rumah.
Mitos 3 : AYAH Tunggal Pasti Tidak Mampu Mengasuh Anak
Mitos ini memang betul-betul sudah lama sekali. Kini, banyak AYAH tunggal yang amat terampil mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Teramat banyak kita temui AYAH tunggal yang sangat terampil dalam membantu kebutuhan anak sehari-hari.
Mitos 4 : AYAH Tunggal yang Mengasuh Anaknya, Karirnya akan Cepat Hancur
Kini zaman sudah berubah. Kini tak laik lagi berpikiran bahwa antara karir dan pekerjaan adalah dua hal yang amat bertentangan. Pada prinsipnya adalah semua kesuksesan apapun juga selalu berawal dari rumah.

AYAH budiman, setelah kita singkirkan mitos-mitos tadi, maka ada baiknya kita melihat beberapa tips sukses menjadi AYAH tunggal. Lagi-lagi semuanya ini sambil menunggu ada takdir lain yang terbaik dari Allah Sang Maha Kuasa. Ini dia tipsnya.

Pertama. AYAH Bukanlah Orang Tua Serba Bisa. AYAH dengan semua beban psikologis tentulah bukanAYAH yang bisa menjadi orang tua lengkap dan sempurna. AYAH tak bisa melakukan semuanya. Mintalah bantuan orang lain, terutama orang-orang muhrim dari anak-anak kita dan yang paling penting mengerti dan memahami pola pengasuhan kita.
Kedua. Bersikap Jujur dan Terbuka Kepada Anak. Sikap ini sebaiknya AYAH lakukan kepada anak-anak. Tentulah semuanya sangat bergantung kepada kondisi anak-anak dan tahap perkembangannya.
Ketiga. Tetap Merawat Diri. Hidup sendiri dengan tugas ganda bukanlah alasan buat AYAH untuk tidak menjaga kesehatan dengan pola hidup yang baik. Makanan bergizi, olah raga dan cukup tidur
Keempat. Positif dan Rilek Saja. Mungkin ini agak gampang diucapkan tapi susah dilakukan. Tapi tetaplah terus percaya penuh kepada ketentuan Allah. Pastilah akan ada kemudahan di samping kesulitan.
Kelima. Cinta ‘Full’ kepada Anak. Percayalah AYAH bahwa, ketika AYAH tidak mengurangi perhatian, menghargai, kasih sayang kepada anak-anak maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan tetap baik meski hidup hanya dengan AYAH tunggal.
Keenam. Luangkan dan Kelola Waktu. Sadarilah bahwa waktu AYAH sekarang tak lagi seperti dulu. Inilah saatnya mengelola waktu dengan baik. Pertimbangkan juga kegiatan anak.
Ketujuh. Usahakan Tak Ada Perubahan Pola Asuh. Meski kini tinggal sendiri, sebaiknya AYAH usahakan tidak mengubah pola asuh seperti idealnya sepasang orang tua. Terutama disiplin.
Kedelapan. Jangan Bebani Anak. Anak tak punya andil sehingga AYAH menjadi AYAH tunggal. Mereka bukanlah penyebab perceraian apalagi kematian ibunya. Bebaskan anak-anak dari perasaan tersebut.
Kesembilan . Kuatkanlah Hubungan dengan Sang Pencipta. Ini sepertinya tak bisa ditawar-tawar. Berusahalah AYAH untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin dengan rutin membaca Al Quran, mengikuti pengajian dan sejenisnya.

Menjadi AYAH tunggal pastilah tak ada seorangpun yang bercita-cita seperti itu. Namun semua ketentuan hidup ada di tangan Allah. Kalaulah Allah takdirkan kita yang dipilih, semogalah kita dikuatkan dan mudahkan segala urusan terutama dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Amin

( Diangkat dari bulletin Sahabat AYAH, kiat menjadi AYAH HEBAT karena ayah adalah cahaya Edisi 009/LK-SA/Tahun Pertama-2010 )
Iklan
Komentar
  1. ahmad saf berkata:

    makasih artikelnya bagus mas..numpang kopi ya. thanks.

  2. makasih mas sudah mampir, silahkan dicopas, mudah2an bermanfaat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s